ETNOLINGUISTIK SEMANTIK PAPPASENG SEBAGAI PETUAH LELUHUR BUGIS

Abstract Views : 0
PDF Downloads : 0

Penulis

  • Muhammad Isla, S.Pd. Rahmayanti, S.Pd., M.Pd. Husni Mubarak, SPd., M.Pd. STKIP Paris Barantai

DOI:

https://doi.org/10.33659/s8mbkj46

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna denotatif dan makna konotatif Pappaseng sebagai petuah leluhur Bugis desa Rantau Panjang Hulu kecamatan kusan hilir kabupaten tanah bumbu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Sumber data penelitian meliputi Semantik Pappaseng sebagai petuah leluhur Bugis yang diperoleh melalui wawancara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pencatatan, dan teknik rekaman untuk memahami makna pappaseng secara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian makna semantik Pappaseng sebagai petuah leluhur Bugis desa rantau panjang hulu kecamatan kusan hilir kabupaten tanah bumbu. Terdiri dari 14 Pappaseng, (1) Pappaseng moto mele’ (2) Pappaseng mette’ (3) Pappaseng barakkanna ele’e (4) Pappaseng botting (5) Pappaseng dio subuh (6) Pappasengna manggaribi (7) Pappaseng pemmali (8) Pappaseng onni (9) Pappaseng jakka (10) Pappaseng mandre (11) Pappaseng massering onni (12) Pappaseng selleng (13) Pappaseng jokka (14) Pappaseng ade’. Makna denotatif dari pappaseng adalah ajaran etika dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup kebiasaan, ucapan larangan, aktivitas umum masyarakat, seperti tidur, ibadah hingga bepergian. Makna konotatifnya mengandung pesan moral berupa nasihat, adab, kesetiaan, kerja keras, kebersihan, dan kebijaksanaan yang berfungsi sebagai simbol kearifan lokal dalam membentuk karakter dan martabat masyarakat Bugis.

 Kata kunci: Pappaseng, Petuah, Suku Bugis.

Referensi

Abbas I. 2013. Pappaseng: kearifan lokal manusia bugis yang terlupakan. Sosiohumaniora : 272-

284. Jurnal.

Albaburrahim, M. Pd. (2019). Pengantar Bahasa Indonesia untuk Akademik. Bojonegoro: CV.

Madza Media.

umsu press. Djajasudrama. 2002. Semantik : Wacana pragmatik. Bandung : Refika Aditama.

Farid, A. Z. A. (1985). Pappaseng: Warisan kearifan lokal Bugis dalam petuah dan nasihat. Ujung

pandang: lembaga kebudayaan Sulawesi Selatan.

Handayani, D., & Sunarso, S. (2020). Eksistensi budaya pappaseng sebagai sarana pendidikan

moral. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(2), 232-241.

Idris, Muhammad, (.2018). Makna Pappaseng Tomatoa Masyarakat Bugis Sinjai (Tinjauan

Semantik Sastra Tutur). Universitas Muhammadiyah Makassar.

Iskandar. 2016. Bentuk makna dan fungsi Pappaseng dalam kehidupan masyarakat Bugis di

kabupaten Bombana. Jurnal Bahasa dan Sastra.

Kurniawan, A., Muhammadiah, M. U., Damanik, B. A. R., Sudaryati, S., Dalle, A., Juniati, S., &

Nurfauziah, A. N. (2023). Semantik. Global Eksekutif Teknologi.

Kusherdyana, R. (2020). Pengertian budaya, lintas budaya, dan teori yang melandasi lintas

budaya. Pemahaman SPAR4103/MODUL, 1(1), 1-63.

Lintas Budaya Mardianti, B., Fitriani, Y., & Missriani, M. (2022). Jurnal pembahsi ( pembelajaran bahasa dan sastra indonesia), https://doi.org/10.31851/pembahsi.v12i2.9552. 12(2), 57-67. Moeliono, A. M., Lapoliwa, H., Alwi, H., Tjatur, S. S., Sasangka, W., & Sugiyono, S. (2017). Tata bahasa baku bahasa Indonesia. Edisi keempat.

##submissions.galleys##

Diterbitkan

2026-09-04

Lisensi

Hak Cipta (c) 2026 CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN

Creative Commons License

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Cara Mengutip

ETNOLINGUISTIK SEMANTIK PAPPASENG SEBAGAI PETUAH LELUHUR BUGIS. (2026). CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN, 14(1). https://doi.org/10.33659/s8mbkj46